Mewujudkan Generasi Qur'ani, Cerdas, Mandiri, dan Berakhlak Mulia.
_6a68496e215a9.gif)
Kerinci (MAN 1 Kerinci) — Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 Kerinci, Mira Zuzana, mengajak seluruh Aparatur Sipil Negara dan tenaga kependidikan di lingkungan MAN 1 Kerinci untuk meningkatkan kualitas kinerja, mengembangkan kompetensi, menjaga disiplin, serta memberikan dampak nyata bagi kemajuan madrasah. Ajakan tersebut disampaikan Mira Zuzana dalam pembinaan apel pagi yang diikuti oleh guru dan tenaga kependidikan MAN 1 Kerinci. Ia menegaskan bahwa perubahan sistem pengelolaan karier ASN menuntut setiap pegawai agar tidak lagi bekerja sekadar menjalankan rutinitas dan menggugurkan kewajiban. “Sudah saatnya ASN berhenti bekerja biasa-biasa saja. Kehadiran saja belum cukup. Setiap pekerjaan harus memiliki hasil yang jelas, bermanfaat bagi madrasah, serta dapat dibuktikan melalui laporan dan dokumen pendukung,” ujar Mira Zuzana. Menurutnya, penerapan Manajemen Talenta ASN menjadi momentum penting bagi seluruh pegawai untuk memperbaiki budaya kerja. Melalui Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 411 Tahun 2025, instansi pemerintah diwajibkan membangun Manajemen Talenta ASN untuk mengidentifikasi, mengembangkan, dan menempatkan ASN terbaik pada posisi yang tepat. Dalam Manajemen Talenta ASN, pegawai dinilai berdasarkan dua parameter utama, yaitu kinerja dan potensial. Penilaian tersebut mencakup hasil evaluasi kinerja, penghargaan, penugasan dalam tim kerja, umpan balik 360 derajat, kompetensi, potensi, kualifikasi, pengalaman jabatan, serta integritas dan moralitas. Mira Zuzana mengingatkan agar Sasaran Kinerja Pegawai tidak hanya disusun sebagai kelengkapan administrasi. Setiap target harus selaras dengan program madrasah, dapat diukur, diselesaikan tepat waktu, dan dilengkapi dengan bukti kinerja. “Setiap pekerjaan harus menghasilkan keluaran. Setiap keluaran harus memberikan manfaat, dan setiap manfaat harus dapat dibuktikan. Pekerjaan yang tidak terdokumentasi dengan baik akan sulit terbaca dalam sistem,” jelasnya. Ia juga meminta seluruh guru dan tenaga kependidikan untuk membiasakan diri menyimpan laporan kegiatan, surat tugas, perangkat pembelajaran, dokumentasi, hasil pelayanan, karya inovasi, sertifikat pelatihan, penghargaan, serta bukti kontribusi dalam tim kerja. Selain kinerja, pengembangan kompetensi menjadi bagian penting dalam pemetaan talenta. Riwayat pelatihan dan pengembangan kompetensi ASN selama tiga tahun terakhir menjadi salah satu sumber penilaian dan harus dibuktikan melalui sertifikat kepesertaan atau sertifikat kompetensi. Namun, Mira Zuzana menekankan bahwa pelatihan tidak boleh hanya menjadi kegiatan untuk mengumpulkan sertifikat. “Sertifikat memang penting, tetapi penerapan ilmu jauh lebih penting. Pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan harus digunakan untuk memperbaiki pembelajaran, meningkatkan pelayanan administrasi, menyelesaikan masalah, dan melahirkan inovasi di madrasah,” tuturnya. Dalam kesempatan tersebut, Kepala MAN 1 Kerinci juga mengingatkan pentingnya menjaga perilaku kerja dan hubungan antarsesama pegawai. Umpan balik 360 derajat memungkinkan perilaku ASN dinilai oleh atasan, rekan sejawat, dan bawahan. Karena itu, setiap pegawai harus membangun komunikasi yang baik, menghargai rekan kerja, mampu bekerja sama, menerima kritik, dan menyelesaikan permasalahan secara profesional. Nilai dasar ASN BerAKHLAK, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif, harus diwujudkan dalam pekerjaan sehari-hari, bukan hanya menjadi slogan yang dibacakan dalam apel. Mira Zuzana turut menegaskan bahwa integritas dan disiplin akan sangat menentukan perjalanan karier seorang ASN. Riwayat hukuman disiplin selama lima tahun terakhir menjadi salah satu bagian dalam verifikasi rekam jejak pegawai pada Manajemen Talenta ASN. Oleh karena itu, seluruh pegawai diminta menjaga kehadiran, menaati jam kerja, melaksanakan tugas dengan jujur, menggunakan fasilitas negara secara bertanggung jawab, menjaga kerahasiaan dokumen, serta bijak dalam menggunakan media sosial. “Kompetensi dapat membuka peluang karier, tetapi integritas menentukan apakah seseorang layak dipercaya. ASN MAN 1 Kerinci harus menjadi teladan dalam kedisiplinan, pelayanan, dan tanggung jawab,” tegasnya. Pada akhir pembinaan, Mira Zuzana mengajak seluruh ASN dan tenaga kependidikan MAN 1 Kerinci untuk mulai memperbaiki kualitas SKP, melengkapi bukti kinerja, mengikuti pelatihan yang relevan, memperbarui data kepegawaian, bersedia menerima penugasan, serta terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan. “Karier ASN masa depan bukan hanya ditentukan oleh siapa yang paling lama bekerja, tetapi oleh siapa yang paling siap membuktikan kinerja, meningkatkan kompetensi, menjaga integritas, dan memberikan dampak nyata bagi madrasah serta masyarakat,” pungkasnya. Melalui pembinaan tersebut, MAN 1 Kerinci berkomitmen membangun budaya kerja yang profesional, produktif, akuntabel, dan berintegritas untuk mendukung terwujudnya madrasah yang maju, bermutu, dan berprestasi.
Baca Selengkapnya_6a684932427b2.gif)
Momentum Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) menjadi ajang refleksi penting bagi seluruh civitas akademika MAN 1 Kerinci. Peringatan tahunan ini dimaknai sebagai pengingat akan pentingnya pemenuhan hak-hak anak, khususnya dalam mendapatkan pendidikan yang layak, aman, dan mendukung tumbuh kembang potensi mereka secara optimal. Melalui momentum ini, MAN 1 Kerinci kembali menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan lingkungan madrasah yang ramah anak, inklusif, dan berorientasi pada pembentukan karakter generasi Islami yang unggul. Kepala MAN 1 Kerinci, Mira Zuzana, S.P., S.Pd., M.Pd menyampaikan bahwa makna sejati Hari Anak Nasional tidak terletak pada perayaan seremonial semata, melainkan pada langkah nyata sehari-hari dalam mendidik dan melindungi peserta didik. Menurut beliau, anak-anak adalah amanah besar sekaligus aset masa depan bangsa. Oleh karena itu, fokus utama madrasah adalah memastikan setiap siswa dapat menuntut ilmu dengan rasa aman, nyaman, dan dihargai. Peringatan ini menjadi pengingat bagi seluruh tenaga pendidik untuk terus menjaga komitmen tersebut. Dalam mewujudkan lingkungan belajar yang ideal, MAN 1 Kerinci memprioritaskan terciptanya suasana madrasah yang bebas dari segala bentuk perundungan. Melalui pendekatan disiplin positif dan pembinaan akhlak, rasa aman fisik maupun mental bagi seluruh siswa menjadi pondasi utama yang terus dijaga secara konsisten. Selain jaminan kebebasan dari perundungan, proses pendidikan di MAN 1 Kerinci juga memfokuskan pada penguatan karakter Islami. Penanaman nilai-nilai keagamaan diselaraskan dengan capaian akademik agar para siswa tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki fondasi moral yang kokoh. Di samping itu, madrasah turut memberikan perhatian besar terhadap pengembangan potensi individual peserta didik. MAN 1 Kerinci secara berkelanjutan menyediakan ruang dan kesempatan seluas-luasnya bagi para siswa untuk mengeksplorasi minat, bakat, serta kreativitas mereka di berbagai bidang akademik maupun non-akademik. Melalui refleksi Hari Anak Nasional ini, MAN 1 Kerinci mengajak seluruh pihak, mulai dari guru, orang tua, hingga masyarakat, untuk terus bersinergi dalam mengawal tumbuh kembang anak-anak. Diharapkan para siswa MAN 1 Kerinci dapat tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan zaman. Selamat Hari Anak Nasional, mari bersama-sama kita jaga dan bimbing generasi penerus bangsa menuju masa depan yang cemerlang.
Baca Selengkapnya_6a683e58bbf24.gif)
Kerinci, 27 Juli 2026 - Program magang mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sakti Alam Kerinci (STIE-SAK) di MAN 1 Kerinci resmi berakhir. Penjemputan mahasiswi magang dilakukan langsung oleh dosen pembimbing, Ibu Ida Yusnita, S.E., M.M., sebagai penanda berakhirnya rangkaian praktik lapangan yang telah dilaksanakan di lingkungan madrasah. Kegiatan penjemputan berlangsung di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) MAN 1 Kerinci dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Pihak madrasah menyampaikan apresiasi atas dedikasi, semangat, dan kontribusi yang telah diberikan para mahasiswi selama menjalankan program magang. Selama menjalani praktik lapangan, para mahasiswi memperoleh pengalaman nyata dalam memahami sistem administrasi dan tata kelola pelayanan pendidikan di madrasah. Mereka turut berpartisipasi dalam berbagai kegiatan administrasi, pelayanan publik melalui PTSP, serta mendukung pelaksanaan program-program yang ada di MAN 1 Kerinci. Dosen pembimbing, Ibu Ida Yusnita, S.E., M.M., menyampaikan terima kasih kepada keluarga besar MAN 1 Kerinci atas kesempatan, bimbingan, dan pendampingan yang telah diberikan kepada mahasiswa selama masa magang. Menurutnya, pengalaman lapangan menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi akademik sekaligus kemampuan profesional sebelum memasuki dunia kerja. Pihak MAN 1 Kerinci juga berharap pengalaman yang diperoleh selama magang dapat menjadi modal berharga bagi para mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan, etos kerja, serta kesiapan menghadapi tantangan di masa depan. Kerja sama antara perguruan tinggi dan madrasah dinilai menjadi salah satu bentuk sinergi positif dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Melalui kegiatan ini, MAN 1 Kerinci kembali menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem pendidikan yang berkualitas, profesional, dan berkelanjutan. Dengan berakhirnya program magang ini, diharapkan hubungan baik antara MAN 1 Kerinci dan STIE-SAK dapat terus terjalin melalui berbagai program kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak serta mendukung lahirnya generasi muda yang kompeten, berintegritas, dan siap bersaing di dunia kerja.
Baca Selengkapnya
Sebukar - Madrasah Aliyah Negeri 1 Kerinci terus menghadirkan pembelajaran yang aktif, menyenangkan, dan bermakna. Salah satunya terlihat dalam kegiatan pembelajaran Bahasa Arab yang dilaksanakan melalui metode permainan edukatif atau game-based learning dengan mengintegrasikan nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Kegiatan pembelajaran ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami kosakata dan menyusun kalimat Bahasa Arab, tetapi juga menanamkan nilai Cinta kepada Allah dan Cinta kepada Diri Sendiri. Dalam proses pembelajaran, peserta didik mengikuti beberapa permainan edukatif, seperti tebak kosakata Bahasa Arab, mencocokkan kata dengan gambar, menyusun kalimat, kuis beregu, serta permainan sambung kata. Peserta didik dibagi dalam beberapa kelompok sehingga mereka dapat belajar sambil berkompetisi secara sehat. Suasana pembelajaran terlihat lebih hidup. Peserta didik tampak antusias menjawab pertanyaan, berdiskusi, memberikan dukungan kepada teman, serta berani menggunakan kosakata Bahasa Arab di depan kelas. Setiap kelompok berusaha menyelesaikan tantangan dengan tetap menjaga ketertiban, kejujuran, dan kekompakan. Melalui permainan tersebut, peserta didik diajak memahami bahwa belajar merupakan salah satu bentuk Cinta kepada Allah. Allah Swt. memberikan manusia akal, kesehatan, waktu, dan kesempatan untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu, peserta didik dibimbing agar mensyukuri nikmat tersebut dengan belajar secara sungguh-sungguh, jujur, disiplin, dan bertanggung jawab. Nilai Cinta kepada Allah juga ditanamkan melalui pembiasaan berdoa sebelum dan sesudah pembelajaran, mengucapkan kalimat-kalimat baik dalam Bahasa Arab, serta menyadari bahwa Bahasa Arab memiliki kedudukan penting sebagai bahasa Al-Qur�an dan salah satu sarana untuk memahami ajaran Islam. Selain itu, pembelajaran ini menguatkan nilai Cinta kepada Diri Sendiri. Peserta didik didorong untuk mengenali kemampuan masing-masing, berani mencoba, percaya diri, dan tidak takut melakukan kesalahan. Kesalahan dalam menjawab tidak dijadikan bahan ejekan, melainkan bagian dari proses belajar dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Guru memberikan apresiasi terhadap setiap usaha peserta didik, bukan hanya terhadap kelompok yang memperoleh nilai tertinggi. Dengan demikian, seluruh peserta didik merasa dihargai dan termotivasi untuk terus mengembangkan kemampuannya. Pembelajaran berbasis permainan juga membantu mengurangi rasa bosan dan anggapan bahwa Bahasa Arab merupakan pelajaran yang sulit. Kosakata dan pola kalimat yang sebelumnya terasa rumit menjadi lebih mudah dipahami karena dipelajari melalui aktivitas yang menarik, interaktif, dan dekat dengan pengalaman peserta didik. Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam pembelajaran Bahasa Arab diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mempunyai karakter religius, percaya diri, sehat secara emosional, menghargai diri sendiri, serta memiliki hubungan yang semakin dekat dengan Allah Swt. Melalui kegiatan ini, MAN 1 Kerinci berkomitmen untuk terus mengembangkan pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Pembelajaran di madrasah diharapkan menjadi ruang yang aman dan membahagiakan bagi peserta didik untuk bertumbuh, mengenali potensi diri, mencintai ilmu pengetahuan, dan meningkatkan rasa syukur kepada Allah Swt. Kontributor: Tim Humas MAN 1 Kerinci Editor: Andika Dokumentasi: Syifa
Baca Selengkapnya31 Jul 2026
31 Jul 2026
31 Jul 2026
29 Jul 2026
29 Jul 2026
Tidak ada agenda mendatang.
Program akademik unggulan fokus pada penelitian sains dan teknologi Islami.
Bimbingan menghafal Al-Qur'an dengan metode talaqqi bersertifikasi.
Fasilitas lab modern dengan jaringan internet cepat untuk praktikum.
Ribuan koleksi buku fisik dan e-book untuk menunjang literasi siswa.
Guru & Staff
Siswa Aktif
Alumni
Tahun Berdiri

Pada tahun 1946, H. Khalik salah seorang penduduk asli dusun (desa) Sebukar Kerinci kembali ke dusun ini setelah selama 16 tahun menuntut ilmu dan menetap di Mekkah. Kepulangannya itu membawa pengaruh yang besar bagi kehidupan keberagamaan masyarakat desa Sebukar khususnya dan masyarakat Kerinci pada umumnya. Sebagai seorang yang baru kembali dari menuntut ilmu di Mekkah, beliau mempunyai kharisma yang sangat tinggi di dalam masyarakat desa Sebukar dan masyarakat Kerinci. Mulai saat itu, beliau mengajarkan ilmu agama secara sukarela di rumahnya sendiri dan waktu belajarnya dibagi menjadi dua, yaitu pagi hari setelah shalat subuh sampai jam 7.30 dan malamnya dari jam 19.00 s/d jam 21.00 setiap hari kecuali pada hari jum’at (hari libur).
Murid-murid pada awalnya hanya berasal dari desa Sebukar, dengan jumlah murid “sepenuh rumah guru” sekitar 20–30 orang. Namun keadaannya semakin hari semakin berkembang, baik dari segi jumlah, jenis kelamin, dan usia, semuanya bercampur menjadi satu tanpa ada pemisahan dan rumah guru tidak mampu lagi menampungnya. Atas kesepakatan bersama, murid-murid itu dipisahkan, orang-orang dewasa belajar pagi dan remaja belajar pada malamnya, sementara anak-anak tidak mendapat waktu sama sekali. Pada priode ini materi pelajaran adalah dasar-dasar keagamaan dengan sistem nonklasikal dan metode muzakarah (musyawarah). Artinya guru dan murid duduk berdampingan tanpa pemisahan.
Untuk lebih mengembangkan ilmu serta didorong oleh respon logis terhadap kondisi pendidikan masyarakat pada saat itu, pada tahun 1952 terjadi perubahan yang sangat fundamental, yaitu perubahan struktur atau tingkatan, kepemimpinan, materi pelajaran, jumlah guru dan murid. Dari segi tingkatan, H. Khalik memprakarsai pendirian Madrasah Awaliyah (setingkat Taman Kanak-Kanak) dan Madrasah Ibtidaiyah. Walaupun sudah bernama madrasah, tempat belajarnya masih tetap menggunakan rumah H. Khalik dan rumah tetangganya. Menurut Jamaluddin, “bangunan rumah pada saat itu berbentuk panggung serta menyatu antara satu dengan lain yang di “rumah panjang” atau “rumah kereta api”, yang dihubungkan sebuah pintu dan dibatasi dinding papan yang sewaktu-waktu bisa dibuka sehingga terkesan “rumah panjang” itu tidak ada pembatasnya.
Pada periode ini, Madrasah ini membutuhkan tenaga pengajar yang banyak. Untuk ini H. Khalik dibantu oleh guru-guru yang telah mendapat kepercayaannya. Murid-murid Madrasah Awaliyah adalah anak-anak usia sekolah dasar, sedangkan murid Madrasah Ibtidaiyah adalah mereka yang sudah remaja dan atau dewasa. Seiring dengan pengembangan tingkatan menjadi MI dan MTs menuntut diangkatnya kepala madrasah untuk masing-masing tingkatan.
Di bidang materi pelajaran, juga terjadi perkembangan. Pada Madrasah Awaliyah diajarkan tulis-baca Al-Qur’an, ditambah dengan pengetahuan dasar keagamaan, bahasa Arab dan praktek ibadah. Pada tingkat Madrasah Ibtidaiyah, yang merupakan lanjutan dari Madrasah Awaliyah, murid sudah mulai belajar membaca kitab berbahasa Arab yang berharakat. Ciri yang paling menonjol dalam Madrasah Ibtidaiyah ini adalah: Pertama, materi pelajaran terkonsentrasi kepada pengembangan dan pendalaman ilmu-ilmu agama, seperti tauhid, fiqh, tasawuf, akhlak, tafsir, hadist dan lain-lain yang terkonsentrasi pada pembahasan kitab-kitab klasik yang berbahasa Arab. Kedua, metodenya adalah sorogan, wetonan dan muzakarah (musyawarah). Ketiga, sistemnya nonklasikal dengan memakai sistem halaqah. Outputnya diharapkan akan menjadi ulama, kiyai, ustaz, guru agama, dan juga menduduki jabatan-jabatan penting keagamaan dari tingkat yang paling tinggi seperti mufti sampai ke tingkat pengurusan soal-soal yang berkenaan dengan fardu kifayah ketika seseorang meninggal dunia. Ini berarti materi pelajaran yang dipentingkan pada tahap awal adalah pengenalan nilai-nilai Islami.
Melihat perkembangan madrasah yang semakin pesat dibentuk panitia pembangunan gedung beranggotakan pemuka-pemuka masyarakat yang bekerja menghimpun dana dan bahan bangunan dari masyarakat serta melaksanakan pembangunannya secara sukarela. Pada tahun 1955, selesai pula pembangunan gedung semi permanen yang dananya sepenuhnya bersumber dari swadaya masyarakat. Bersamaan dengan peresmian pemakaian gedung diresmikan pula pengembangan madrasah menjadi Sekolah Menengah Islam (SMI). Pada tahun berikutnya 1956 berganti nama menjadi Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). Berarti sejak tahun 1955 madrasah ini telah menempuh babak baru bagi perkembangan lembaga pendidikan di Sebukar, dimana terjadi berbagai perubahan. Dari segi fisik, MTI sudah menggunakan gedung sebagai tempat belajar anak-anak dan remaja (orang-orang dewasa masih tetap mengaji di rumah H. Khalik). Dari segi waktu, masa belajarnya tujuh tahun, dan berjalan sampai tahun 1978.
Dari segi mata pelajaran, anak-anak yang berusia 6 – 10 tahun diberikan pengetahuan dasar bahasa Arab, mengenal huruf-huruf Al-Quran, Juz ‘Amma dengan metode Baghdady, dasar-dasar pengetahuan syari’at Islam dan belajar menulis huruf Arab Melayu dan lain-lain. Murid yang mempunyai kemampuan luar biasa atau telah memenuhi kualifikasi yang telah ditetapkan oleh guru berhak mendapatkan pelayanan percepatan; dia langsung dinaikkan ke kelas yang lebih tinggi, bagi anak yang tingkat kemampuannya lambat akan berada di kelas yang sama sampai 2–3 tahun (Zainun Manaf, Wawancara 15 Oktober 2011).
Pada kelas II, para murid sudah mulai membaca kitab berbahasa Arab yang mempunyai harakat (berbaris), sedangkan pada kelas III – VII kitabnya sudah tidak berharakat lagi atau lazimnya disebut dengan “kitab gundul”. Mata pelajaran dari kelas II – VII sama, yaitu : 1) Ilmu Bahasa Arab, 2) Tauhid, 3) Sejarah Islam, 4) Fiqih, 5) Hadits, 6) Tafsir/Ilmu Tafsir, 7) Ulum Al Hadits, 8) Ulum Al Quran, 9) Tasawuf dan 10) Akhlak. Hanya saja yang membedakannya adalah jenis dan tingkat kesulitan kitab yang digunakan, termasuk juga tingkat kemampuan murid akan menentukan dia akan dimasukkan ke kelas berapa. Kitab-kitab yang dipakai untuk masing-masing mata pelajaran dari kelas II–VII saling berhungan dan merupakan pengembangan bahasan dari kitab sebelumnya. Sesuai dengan kelas dan kitab yang sudah ditetapkan, setiap murid harus membacanya sampai tamat yang dibimbing oleh guru di kelas dan mengahafalnya setelah sampai di rumah. Pelajaran hari ini langsung di evaluasi keesokannya oleh guru. Selama murid belum memiliki kompetensi tentang pelajaran terdahulu, guru tidak akan berpindah ke topik lain. Oleh sebab itu, setiap murid berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di kelasnya, atau sekurang-kurangnya para murid menjadikan diri mereka tidak sebagai penyebab bagi diulangnya materi terdahulu pada hari berikutnya. Jadi, pada masa ini, pihak pengurus dan guru MTI sudah menerapkan kurikulum dan silabus berbasis kompetensi (KBK) sesuai dengan bab yang dibahas dalam kitab-kitab itu walaupun kompetensi itu masih mengutamakan hafalan. Ini berarti kurikulum dan silabusnya tidak tertulis atau tercatat secara khusus.
Mulai tahun 1967, MTI yang masa belajarnya tujuh tahun itu dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni Madrasah Ibtidaiyah Agama Islam Swasta (MIAIS) dan selanjutnya digunakan istilah Madrasah Ibtidaiyah (MI) yang menjadi cikal bakal keberadaan Madrasah Ibtidaiyah No. 28/E.3 Sebukar sekarang ini. Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Swasta (MTsAIS) menjadi Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah Agama Islam Swasta (MAAIS) yang menjadi Madrasah Aliyah (MA) dan juga sebagai cikal bakal keberadaan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Sebukar yang ada sekarang ini.
Pembagian jenjang pendidikan di atas cukup beralasan, terutama untuk jenjang Madrasah Aliyah, karena pada saat itu Sekolah Lanjutan Tingkat Atas di Kerinci masih sangat minim. Bahkan di lingkungan “Inspeksi Pendidikan Agama” pada waktu itu dan sekarang Departemen Agama Kabupaten Kerinci, hanya ada dua sekolah menengah, yaitu Pendidikan Guru Agama (PGA) 6 tahun dan Pendidikan Guru Agama (PGA) Putri yang terletak di ibu kota kabupaten. Di Kecamatan Sitinjau Laut, tempat desa Sebukar dan MTI itu berada, pada waktu itu belum ada sekolah menengah. Selain itu, ada masukan dari para tamatan Madrasah ini, bahwa ijazah Madrasah yang diterimanya dari MTI tidak diakui dan tidak dapat diterima masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta tidak dapat digunakan sebagai bahan melamar menjadi pegawai negeri sipil. Dengan perubahan ini murid yang sudah kelas III di MTI bisa mengikuti ujian negara pada Madrasah Ibtidaiyah Agama Islam Negeri (MIAIN), kelas IV MTI dapat mengikuti ujian negara pada Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri (MTsAIN), begitu pula kelas VII dapat mengikuti ujian negara pada Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN). Hal ini dilakukan agar peserta didik bisa memperoleh ijazah negeri setelah tamat MTI, dan diharapkan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kemudian pada tahun 1978 MAAIS dinegerikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama nomor 17 tahun 1978 tentang daftar nama dan lokasi MAN Seluruh Indonesia. Di dalam Surat Keputusan Tersebut, Madrasah Aliyah Negeri Sebukar dinegerikan bersama MAN Olak Kemang, MAN Sungai Penuh 1, MAN Sebukar, MAN Sungai Penuh 2, MAN Jambi dan MAN Kerinci.
Dari latar belakang sejarah di atas dapat disimpulkan bahwa Madrasah Aliyah Negeri Sebukar merupakan salah satu madrasah tertua di provinsi Jambi dan satu-satunya madrasah tertua di Kabupaten Kerinci berdasarkan SK Pendirian dan SK penegerian asli yang masih disimpan menjadi bukti sejarah perkembangan Madrasah. Kemudian pada tahun 2016 diterbitkan Keputusan Menteri Agama nomor 681 Tahun 2016 tentang Perubahan Nama Madrasah Aliyah Negeri, Madrasah Tsanawiyah Negeri dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri di Provinsi Jambi, yang mengubah nama Madrasah Aliyah Negeri Sebukar menjadi Madrasah Aliyah Negeri 1 Kerinci.
Jln. Perintis Depati Parbo Simpang IV Desa Sebukar, Kec. Tanah Cogok, Kab. Kerinci - Jambi






